Langsung ke konten utama

MALLTENCE (PART 5)

KEEP PRAYING

Semenjak pindah tempat ibadah kami tidak lagi pelayanan seperti biasa di hari minggu, karna ruko dan ruangan nya tidak mencukupkan untuk kami pelayanan, kami masih tetap latihan, walaupun harus naik turun pindah ruangan, impian kami nanti saat gereja sudah jadi, kami punya ruangan khusus dengan kaca, sound system, dan sepertinya baru itu yang kami perlu.

Puji Tuhan, kami selalu di beri tempat untuk kami bisa tetap melayani walaupun bukan di gereja sendiri, kami pelayanan acara wedding, GYR (Get Your Revival), Natal di kampus - kampus dan beberapa acara ibadah lainnya. Sejujurnya kami malu dengan alat yang kami punya keadaan nya seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya, suka minder sendiri, tapi kami belajar bahwa ketika sudah masuk dalam pelayanan kami harus buang semua hal yang bisa merusak pelayanan kami, termasuk rasa minder dengan alat itu.

Kami kehilangan 1 tambourine besar kami karna terlempar, jatuh dan patah, Natal (2016) tidak ada yang baru, karna dana yang kami punya hanya cukup untuk beli alat rias, aku selalu berdoa dan menangis akan hal ini, aku sangat ingin punya alat baru kalaupun bukan hologram setidaknya ada penambahan tambourine, dulu saat tidak ada tambourine memang kami pernah pakai piring plastik, sampai kami di kasih tambourine baru. aku pernah marah dengan DIA, sampai aku berniat mau meninggakan malltence seperti dulu , tapi itu tidak bisa, hati ini sudah tertanam sangat terikat. Ingin rasanya menikmati minggu dengan berlibur tapi satu satunya alasan aku tidak bisa melakukan itu adalah Malltence.

Semakin aku berdoa minta alat, Tuhan semakin kasih aku jiwa baru untuk aku latih itu berulangkali terjadi, aku berteriak pada DIA "aku minta alat buka jiwa, bagaimana aku latih mereka dengan alat yang tidak cukup" dan lagi lagi DIA titip jiwa baru, aku tidak pernah mau lagi berseru mengenai hal ini dan benar saja jiwa baru terhenti.


Bulan januari 2017 kami di infokan oleh salah satu anggota gereja kami bahwa kami di percayakan untuk bisa pelayanan natal di PT. Premiel Oil, seperti pelayanan sebelum nya tidak ada dalam pemikiran kami ketika melayani "kami akan di kasih apa, akan di bayar berapa" ketika kami melayani ya melayani tidak mengharap ada pemberian untuk kami.

Selesai acara kami dikumpulkan bersama dan ada pemberian untuk kami, kami memang butuh dana itu, tapi lebih baik di berikan ke gereja, beliau tau kami lagi butuh dana untuk alat dan kami bagi dana itu untuk gereja dan juga malltence,kami dapat berkat dana lagi, aku tidak bisa menahan rasa haru ini, malam sebelum tidur aku berdoa dan menangis sejadi jadinya (rasanya sakit ingin nangis menjerit tapi tidak bisa karna semua sudah tidur dan aku tidak mau mengganggu).


(To Be Continued)

Komentar