Langsung ke konten utama

MALLTENCE (PART 4)




BERANI BAYAR HARGA

Seiring jalan nya waktu, penari bertambah 4 orang sama seperti aku dulu, penari dari sekolah minggu.



Kami punya 8 tambourine (4 ukuran 10inc dan 4 ukuran 8inc) Tambourine kami jenis tambourine yang terbuat dari bingkai kayu bundar yang di lengkapi dengan membran pelapis dari kulit sapi/pastik. Kami sangat berharap punya tambourine yang terbuat dari hologram, itu sangat meringankan kami, karna tambourine kayu umurnya tidak lama, apalagi kalau sudah rusak, perawatnya juga tidak sembarangan, karna di simpan di dalam lemari dan keadaan lembap seringkali tambourine kami kulit membra nya menurun dan itu buat suara tepukan nya jadi terdengar kurang suara, sebelum dipakai kami pakai harus jemur dulu ,itupun tidak boleh saat terik atau pun terlalu lama di jemur karna bisa buat kulit membra nya jadi terlihat seperti gosong.

Di gereja kami tidak di berlakukan PK (Persembahan Kasih), kecuali saat di hari raya (Natal & Paskah), dana itu pun tidak cukup untuk kami beli alat. So...ya yang bisa kami lakukan adalah...meminta belas kasih kepada para Leader yang sudah bekerja, cara itu berhasil tapi kami tidak mungkin harus selalu seperti itu. Natal tiba (2015), kami senang dapat  kostum baru dan sepatu baru. oh ya kami punya 1 pasang twirling dari pengajar kami, tapi baru aku yang bisa menggunakan jadi itu jarang kami pakai tapi aku pasti ajarkan.

Beberapa bulan sebelum paskah (2016), kami harus kehilangan tambourine kami, tempat penyimpanan tambourine kami memang saat itu di lemari kayu yang memang juga tempat penyimpanan alat alat gereja lain nya. Kami sangat terkejud dan sedih melihat keadaan tambourine kami yang sebagian sudah habis di lalap tikus (i'm so sad).

Hanya tersisa 5 itupun 2 yang besar dan 3 yang kecil (pinggirnya ada bekas gigitan tikus), hanya kami yang tau hal ini, ya cukup kami yang tau. Kami tidak lagi meminta belas kasih kepada para leader, kami bisa saja minta dana dari gereja,  tapi saat itu kami tau gereja kami harus pindah, dan itu butuh biaya besar. Akhirnya kami sepakat untuk buat tabungan dari masing masing kami (untuk teen/youth Rp. 5000, untuk anak sekolah minggu Rp.2000) setiap minggu kami setor, sistem tabungan yang kami berlakukan "tabungan ini bukan uang hasil minta langsung ke orang tua, tapi murni uang jajan yang kami sisihkan".

(To Be Continued...)
MALLTENCE PART 5






Komentar